TARIF TRUMP BERHASIL TURUN, APA HASIL NEGOSIASI DENGAN AS?

Amerika Serikat tetap menerapkan tarif impor sebesar 32 persen pada Selasa 7/7/25 terhadap barang-barang dari Indonesia, walaupun sebelumnya sempat muncul harapan bahwa kebijakan ini akan diubah. Kebijakan tersebut dimulai pada masa kepemimpinan Presiden Donald Trump. Situasi ini menjadi tantangan bagi eksportir Indonesia karena membuat biaya kirim ke pasar AS semakin tinggi dan menurunkan daya saing produk mereka. Namun pada akhirnya Indonesia berhasil mengurangi tarif menjadi 19% setelah melakukan negosiasi melalui masing-masing perwakilan menteri Indonesia & AS.

image by www.freemalaysiatoday.com.

Negosiasi Lanjutan

Presiden Indonesia Prabowo Subianto kembali mengirim delegasi untuk melanjutkan negosiasi lanjutan ke Washington DC setelah sebelumnya sudah pernah dilakukan di tanggal 16-23 April 2025. Negosiasi sebelumnya di wakili oleh 3 perwakilan yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kini negosiasi lanjutan hanya diwakili oleh Airlangga Hartanto yang melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Kepala Kantor Perwakilan Dagang (United States Trade Representative/USTR) Jamieson Greer pada tanggal 10 Juli 2025 sampai 3 minggu kedepan. Delegasi Indonesia pun menjadi delegasi pertama yang diterima Trump dalam negosiasi lanjutan tarif. Airlangga Hartanto mengungkapkan pertemuan ini akan membahas terkait isu-isu tarif, hambatan non-tarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi, serta kerjasama komersial dan investasi.

Hasil Negosiasi

Negosiasi berhasil mencapai kesepakatannya. Presiden AS Trump menurunkan tarif impor Indonesia menjadi 19% yang sebelumnya menyentuh 32%. Hasil negosiasi ini pun sudah diresmikan oleh Presiden AS melalui platform media sosial truth Social pada Selasa, 16 Juli 2025. Yang menyatakan bahwa Indonesia akan membayar tarif impor sebesar 19% kepada AS, sedangkan AS tidak membayar sepeserpun tarif atas barang mereka yang masuk ke Indonesia dimana kesepakatan ini terjadi setelah Presiden AS Trump berbincang langsung dengan Presiden RI Prabowo. Selain itu Indonesia juga harus berinvestasi kepada sejumlah produk Amerika yaitu; membeli energi AS senilai 15 miliar dolar AS, produk pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS, dan 50 pesawat Boeing. Indonesia juga harus membangun pabrik perusahaan AS. Mengutip dari BBC News; Menurut ekonom, meskipun tarif turun, ini bukan negosiasi yang menguntungkan bagi Indonesia. Selain itu, jika dibandingkan dengan Vietnam yang juga menjadi salah satu eksportir utama di kawasan Asia Tenggara, kebijakan tarif resiprokal ini masih membuat posisi Indonesia kurang menguntungkan. Sebelumnya, Vietnam dikenakan tarif sebesar 46%, namun berkat hasil negosiasi, tarif tersebut berhasil diturunkan menjadi 20%. “Kalau perbedaannya hanya 1% saja dibandingkan Vietnam, kita tetap kalah dalam hal daya saing, terutama di sektor manufaktur. Apalagi biaya produksi dan logistik di Vietnam lebih rendah. Jadi, yang tetap diuntungkan adalah Vietnam, dan arus relokasi industri pun masih mengarah ke sana,” ujar Bhima. Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menyatakan bahwa meskipun struktur ekspor Indonesia dan Vietnam berbeda, Indonesia tetap harus mencari strategi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih menarik demi mendorong pertumbuhan ekspor.

Pengaruh dalam Perdagangan

Penurunan tarif impor menjadi 19% oleh Amerika Serikat menjadi langkah strategis yang membuka peluang ekspor lebih luas bagi Indonesia, terutama bagi sektor padat karya seperti industri garmen, alas kaki, dan minyak sawit. Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, mendorong investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru melalui relokasi industri ke dalam negeri. Pemerintah juga melakukan intervensi guna melindungi industri domestik dan mencegah terjadinya penurunan permintaan pasar yang berpotensi memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat strategi ekspor melalui negosiasi dagang dan kerja sama internasional yang berkelanjutan. Kombinasi antara penurunan tarif ekspor ke AS dan perjanjian dagang lainnya diharapkan memberi dampak ganda dalam memperluas akses pasar dan memperkuat daya saing industri nasional. Langkah ini juga diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas neraca perdagangan Indonesia di tengah ketatnya persaingan global. 

Meskipun penurunan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat menjadi 19% membuka peluang bagi sektor ekspor seperti

1. CPO

“Untuk CPO, kita sangat kompetitif. Kita sudah menguasai sekitar 85 persen pasar CPO di Amerika Serikat,” kata Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual. “Dengan tarif kita yang hanya 19 persen dibandingkan Malaysia yang 26 persen, importir jelas akan lebih memilih produk kita”. Dapat kita maksudkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan dalam ekspor CPO ke AS, dengan menguasai sekitar 85% pangsa pasar. Selain itu, tarif impor AS untuk CPO Indonesia hanya 19%, lebih rendah dibanding Malaysia yang dikenai 26%. Perbedaan ini membuat produk Indonesia lebih kompetitif, sehingga peluang untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspor CPO tetap terbuka lebar.

2. Alas Kaki

Secara keseluruhan, Aprisindo menegaskan keberlangsungan industri sangat dipengaruhi berbagai faktor internal dan eksternal. “Dan tarif resiprokal Presiden Trump sebagai faktor eksternal yang sangat mempengaruhi karena angka ekspor alas kaki di mana pada tahun 2024 mencapai 2.393,74 juta dolar AS (2,4 miliar dolar AS) ke AS yang diharapkan kedepan mengalami peningkatan signifikan” ujar Billie. Tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Trump menjadi faktor eksternal yang sangat berpengaruh terhadap ekspor Indonesia, khususnya sektor alas kaki. Pada tahun 2024, ekspor alas kaki Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 2,39 miliar dolar AS, menunjukkan peran penting pasar AS bagi industri ini. Ke depan, diharapkan ekspor ini terus meningkat, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kebijakan tarif yang diberlakukan oleh AS terhadap produk Indonesia.

3. Karet

Mengutip ASEAN Briefing, tarif 19% memberi waktu bagi eksportir Indonesia untuk beradaptasi. Akses pasar AS tetap terbuka bagi industri seperti karet dan sawit, tapi strategi harga dan biaya harus disesuaikan untuk menanggung z beban tarif. 

4. Pakaian

Indef menyebut industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki akan paling terdampak tarif impor AS sebesar 19% yang berlaku 1 Agustus 2025. Sektor ini merupakan penyumbang ekspor besar ke AS dan melibatkan banyak tenaga kerja, baik formal maupun informal.

Kesepakatan ini tetap menyimpan risiko yang perlu diantisipasi. Posisi Indonesia juga belum sepenuhnya kompetitif dibandingkan negara lain, seperti Vietnam yang tarifnya turun dari 46% menjadi 20%. Selain itu, fasilitas tarif 0% bagi produk-produk Amerika Serikat berpotensi memicu lonjakan impor, terutama pada sektor migas, elektronik, suku cadang pesawat, serealia, dan farmasi. Jika dibiarkan, hal ini dapat memperlebar defisit migas yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah serta menambah beban subsidi energi dalam APBN.

Ketergantungan pada impor migas menjadi salah satu tantangan terbesar karena berpotensi membuat kebutuhan subsidi energi meningkat jauh lebih besar dari alokasi yang telah disiapkan. Percepatan transisi energi menjadi langkah mendesak untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan LPG. Selain itu, kebijakan tarif 0% untuk produk pangan seperti gandum juga berisiko mengganggu ketahanan pangan nasional. Meskipun harga di tingkat konsumen mungkin turun, produsen pangan lokal berpotensi tertekan dan kalah bersaing, sehingga ketergantungan terhadap pasokan luar negeri semakin besar.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, diperlukan strategi diversifikasi pasar ekspor agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat. Perluasan pasar ke kawasan Eropa dan ASEAN menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas perdagangan sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global. Dengan pengelolaan kebijakan yang tepat, peluang dari penurunan tarif dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dalam negeri.

Peluang Strategis

Pemerintah Indonesia optimis terhadap peluang yang muncul dari penerapan tarif impor sebesar 19 % oleh Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia. Kebijakan ini dipandang sebagai peluang besar untuk mendorong ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat. Produk-produk seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik berpotensi dikirim dalam jumlah yang lebih besar, sehingga nilai perdagangan antara kedua negara bisa meningkat signifikan, bahkan berpotensi mencapai dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, penting bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor dengan mengolah bahan baku menjadi barang jadi bernilai tinggi, misalnya memanfaatkan bahan mentah seperti gandum dan kapas menjadi produk garmen dan alas kaki. Tarif yang berlaku saat ini juga tergolong kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan, sehingga membuka peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Hal ini dapat memberikan keunggulan kompetitif bagi Indonesia serta menjadikan Indonesia tujuan menarik bagi investor asing yang ingin menjangkau pasar AS melalui jalur produksi di Indonesia. Selain potensi peningkatan ekspor ke Amerika, Indonesia juga terus memperluas pasar melalui kesepakatan dagang seperti IEU-CEPA dengan Uni Eropa yang saat ini hampir rampung. Pemerintah berharap dengan terbukanya akses ke berbagai pasar internasional, ekspor nasional dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.

Langkah Indonesia Menghadapi Tarif Ini

Meskipun tarif resiprokal Amerika Serikat berhasil ditekan dari 32% menjadi 19%, kebijakan ini tetap perlu diimbangi dengan langkah perlindungan pasar dalam negeri. Ada tiga langkah strategis yang penting dilakukan. 

Pertama, penguatan perlindungan pasar domestik melalui optimalisasi instrumen trade remedies, seperti kebijakan anti-dumping, safeguards, dan countervailing duties, untuk mencegah lonjakan produk substitusi dari negara-negara pesaing seperti China, Vietnam, dan anggota BRICS lainnya.

Kedua, diperlukan reformasi struktural guna menciptakan iklim usaha yang efisien. Hal ini dapat diwujudkan dengan penyederhanaan regulasi di sektor logistik dan energi, penerapan insentif fiskal seperti relaksasi PPN bahan baku, serta penyediaan akses pembiayaan murah bagi sektor-sektor strategis.

Ketiga, penguatan rantai pasok industri nasional harus menjadi prioritas. Langkah ini penting agar industri dalam negeri mampu memaksimalkan peluang perdagangan sekaligus menjaga daya saing di tengah derasnya arus barang impor.

Indonesia Tergabung dalam BRICS

Dalam upaya mendiversifikasi pasar ekspor sekaligus berperan aktif di panggung politik internasional, Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global dan mendiversifikasi mitra strategisnya. BRICS adalah sebuah kelompok kerja sama antarnegara yang bertujuan untuk memperkuat hubungan ekonomi, politik, dan sosial di antara negara-negara anggotanya. Kelompok ini dibentuk untuk menyeimbangkan dominasi negara-negara maju seperti AS dan negara-negara di Uni Eropa dalam tatanan ekonomi global.

image by diplomaticinside.com.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menghadiri KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6 Juli 2025 yang menghasilkan 4 kesepakatan yang tertuang di deklarasi Rio de Janeiro pada 6 Juli yaitu menegaskan kembali terhadap semangat BRICS yang menjunjung tinggi prinsip saling menghormati dan saling pengertian, kesetaraan, kedaulatan, solidaritas, demokrasi, keterbukaan, inklusivitas, kolaborasi dan konsensus.

BRICS berkomitmen memperkuat perluasan kerjasama melalui 3 pilar: politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, kebudayaan dan hubungan antar masyarakat, serta meningkatkan kemitraan strategis demi kesejahteraan rakyat melalui perdamaian, tatanan internasional yang representatif dan adil, sistem multilateral yang diperbarui dan direformasi, pembangunan berkelanjutan serta pertumbuhan yang inklusif.

Dalam kunjungan ke AS, Menko Airlangga membawa misi membahas tarif impor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam rantai pasok global. Pemerintah menekankan diplomasi ekonomi serta menyiapkan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan non-tradisional seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Saleh Husin mendorong negosiasi ulang dengan AS, insentif bagi industri terdampak, serta optimalisasi pasar domestik melalui kebijakan TKDN.

Sumber Referensi:

  1. Serbaneka Donald Trump Terapkan Tarif Impor 32 Persen untuk Indonesia | tempo.co
  2. https://republika.co.id/share/sz23ab490?utm_source=whatsapp
  3. https://share.google/p0RPzzaHn4K1kZnCQ
  4. https://share.google/RuRnHZx7XznAKiTfw
  5. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20250717135830-92-1251782/pengamat-nilai-hasil-negosiasi-tarif-19-persen-masih-merugikan-ri
  6. https://www.tempo.co/ekonomi/kompensasi-tarif-trump-untuk-indonesia-dari-32-persen-jadi-19-persen-2045688
  7. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c9w125qepe5o 
  8. https://www.facsekuritas.co.id/news/corporate-action/indonesia-dan-as-sepakat-lanjutkan-negosiasi-tarif-resiprokal 
  9. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250415070829-4-625977/berikut-ini-daftar-menteri-prabowo-yang-ikut-di-tim-negosiasi-tarif-as
  10. https://ekon.go.id/publikasi/detail/6475/sepakati-tarif-baru-19-dengan-amerika-serikat-jadi-huge-wins-untuk-industri-padat-karya-indonesia
  11. https://www.bisnisbali.com/2025/07/17/6895/tarif-19-persen-berisiko-tinggi-bagi-neraca-perdagangan-indonesia.html
  12. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250717143024-4-649961/kadin-buka-suara-soal-tarif-impor-19-untuk-ri-sebut-peluang-ini
  13. https://kumparan.com/kumparanbisnis/ri-kena-tarif-trump-19-jadi-peluang-investasi-asing-masuk-and-genjot-ekspor-ke-as-25TYXMYcVgd
  14. https://ekon.go.id/publikasi/detail/6475/sepakati-tarif-baru-19-dengan-amerika-serikat-jadi-huge-wins-untuk-industri-padat-karya-indonesia
  15. https://industri.kontan.co.id/news/dapat-19-indonesia-masih-perlu-3-langkah-lanjutan-dalam-hadapi-tarif-trump 
  16. https://www.idntimes.com/business/economy/kena-tarif-trump-19-persen-gimana-nasib-industri-alas-kaki-00-3m8tp-lhckc4
  17. https://www.aseanbriefing.com/news/new-indonesia-us-trade-deal-sets-19-tariff-rate/?utm_source=chatgpt.com
  18. https://www.antaranews.com/berita/4981241/indef-industri-tekstil-dan-alas-kaki-paling-terdampak-tarif-impor-as
  19. https://ekonomi.republika.co.id/berita/szo87g423/tarif-19-persen-jadi-peluang-ekspor-cpo-indonesia-bisa-makin-dilirik-as

Penulis: Puspa Ridhowati dan Cindri Lia Agustriyani


Komentar

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai